Sendratasik Batanam Karya Baharum Banua 2013
Memenuhi undangan Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan (5/7) yang menggelar acara tahunan 'batanam karya baharum banua'
dengan menampilkan sendratasik dari Yayasan Pusaka Saijaan Kotabaru
yang berjudul 'Senja Kaki Gunung Batas Laut' merupakan kehormatan yang
langka karena tema yang disajikan adalah upaya menjaga dan memelihara
tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dipilihnya tema ini
karena fenomena yang tampak telah menunjukkan adanya pergeseran nilai
kecintaan terhadap tradisi lama sebagai kehidupan yang usang dan telah
banyak ditinggalkan pemiliknya karena lahirnya kemudahan dan keindahan
budaya baru yang lebih memanjakan. Melalui sendratasik 'senja kaki
gunung batas laut' ini digambarkan perjalanan kesenian masyarakat,
khususnya wilayah pesisir Kabupaten Kota Baru yang berbatasan dengan
ujung Pegunungan Meratus. Ada sesuatu yang baru, demikian promosi yang
kubaca di koran pagi - yaitu pemanfaatan multi media sebagai upaya
membangun nuansa tontonan yang menghibur karena pada umumnya pagelaran tradisi selalu sepi penonton.
| transisi tayangan aktor dari screnshot ke panggung |
Layar Lebar dan Panggung Teaterikal
Ada tiga panggung yang dibangun dalam pagelaran sendratasik 'senja kaki gnung batas laut' pada sebelah kanan panggung ditempatkan
kelompok musik dan sebelah kiri untuk pendukung penampilan dari panggung utama yang terpasang layar lebar (screnshoot) dengan siluet perahu nelayan yang sedang sandar di pantai. Sementara di sisi kiri backdrop panggung terukir bayangan pegunungan yang berjajar atau awan putih yang bergelantungan tanpa batas. Komunitas musik yang mengiringi setiap tampilan di panggung utama begitu menggelegar menampilkan irama tradisional dengan perpaduan instrumen modern - nyaris mampu menguasai ruang tontonan. Dominasi irama gesekan biola dan perkusi berupa gendang dan rebana serta denting gamelan bertingkah setiap perpindahan gerak sehingga nampak selaras dengan ritme dan tempo musik. Aku menunggu, terobosan multi media yang dijanjikan menjadi sesuatu yang baru dalam pagelaran malam ini. Dan, ternyata layar lebar yang menjadi backdrop panggung sejak awal sudah menampilkan riwayat tradisi masyarakat bugis 'bajau' yang berada di pesisir pantai dari pemukiman, cara hidup, pemeliharaan lingkungan, hingga prilaku keseharian dalam berkesenian. Inilah yang menjadi sorotan multi media yang kemudian berpindah menjadi aktor panggung utama - transisi perpindahan dari tayangan layar hingga kemunculan di panggung yang cepat dengan membuat perpindahan gambar yang menghilang dengan sorot yang terang pada aktor. Sebelumnya, ditampilkan tarian dan nyanyian yang menceritakan glamour dunia keseniaan modern serta musik lokal daerah bugis dengan instrumen 'satung' tentang nyanyian betapa miris hati terhadap prilaku generasi muda yang sulit dan tak mau mempelajari tradisi leluhurnya. Sayang, narasi lagu ini sulit dipahami penonton sehingga pandangan lebih banyak ditujukan pada sorot layar LCD di panggung utama. Begitu pula, ketika seorang tua menyanyikan lagu bahasa banjar berpadu tayangan screnshot - ternyata penonton lebih banyak memberi perhatian pada tayangan LCD tersebut. Hal ini juga karena buruknya sound aktor yang nyaris tidak terdengar pada ruang balairung di gedung taman budaya ini, sementara sound untuk komunitas musik lebih keras dan nyaring.
Hanya ada scene heading yang dibaca pada saat layar menjadi gelap untuk
menunjukkan perpindahan adegan di panggung - karena penonton sama sekali
tidak mendapat narasi yang menceritakan urutan kisah yang ditebar dalam
bentuk nyanyian dan teaterikal aktor panggung 'sang penari' yang
kehilangan wadah dan sahabat dalam berkesenian. Antiklimak yang
ditampilkan adalah bagaimana sang penari yang tiba-tiba berada di
barisan penontong berlari ke atas panggung dan menerabas setiap
tantangan dan godaan dari derasnya kebudayaan modern yang disimbolkan
dengan dinding warna-warni. Aku suka karena musik yang menggring tarian
ini seperti membawakan instrumen 'the final countdown' yang berpadu dengan rentak baegal dalam japin sigam.
Sebuah tayangan memang bukan kerja yang sederhana jika ingin menarik
apresiasi dan kreatifitas masyarakat pendukungnya, waktu dua bulan untuk
menyajikan sesuatu yang baru dalam mengangkat tradisi lama menjadi
tontonan yang menarik perhatian masyarakat tentu sebuah kerja yang berat
- namun secara teknis di panggung ternyata aspek teknis dan nonteknis
masih perlu diperhatikan serius. Salah satunya adalah penataan sound
yang harmoni dan terdengar merata bagi penonton. Dari pagelaran 'senja
kaki gunung batas laut' tentu kita bangga dengan sang kreator namun
sebaiknya ada performance yang menjadi unggulan sebagai prasasti bagi
sebuah pagelaran - seperti tarian atau nyanyian - sehingga tidak lenyap
begitu saja setelah usai even diselenggarakan. Apalagi acara batanam
karya baharum banua sebagai wadah apresiasi yang rutin dilaksanakan
setiap tahun, sederhana saja misalnya tarian baegal 'japin sigam'
sebagai salah satu mata acara yang dibakukan dalam sajian ini atas nama
Yayasan Pusaka Saijaan Kotabaru. Sebagaimana yang saya saksikan pada
even performing art di Keraton Surakarta Hadiningrat yang menanamkan
karya dalam penampilan rutin tiap bulan dengan tujuan mengharumkan
tradisi, sekaligus budaya banua. Alangkah indahnya jika sebuah tarian
dan nyanyian tradisi lama dikreasikan dalam nuansa modernitas sebagai
prasasti banua yang berharga di masyarakat. Sehingga even 'batanam karya baharum banua' yang sudah menjalani tahun ke 5 memiliki momentum bernilai seni di samping bernilai sosial semata. Salam...!
| penghargaan 10 seniman pelestari seni tradisi Kalimantan Selatan |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar